Review12 Mei 20267 menit

Review Yomi no Tsugai: Anime Baru dari Kreator Fullmetal Alchemist yang Wajib Kamu Tonton

By Nimeku Team
Review Yomi no Tsugai: Anime Baru dari Kreator Fullmetal Alchemist yang Wajib Kamu Tonton

Ada nama-nama tertentu di dunia anime yang begitu kamu dengar, ekspektasi kamu langsung melonjak ke level tertinggi. Hiromu Arakawa adalah salah satunya. Kreator di balik Fullmetal Alchemist Brotherhood — yang hingga hari ini masih bertengger sebagai salah satu anime dengan rating tertinggi sepanjang masa — kini hadir dengan karya terbarunya: Yomi no Tsugai.

Wajar kalau kamu skeptis. Ekspektasi yang terlalu tinggi sering jadi bumerang. Tapi setelah beberapa episode berjalan, satu hal sudah jelas: Arakawa belum kehilangan sentuhannya.

Yuk, kita bedah tuntas anime yang jadi salah satu dark horse terbesar Spring 2026 ini.

Apa Itu Yomi no Tsugai?

Yomi no Tsugai (黄泉のツガイ) atau dalam bahasa Inggrisnya Daemons of the Shadow Realm, adalah seri manga karya Hiromu Arakawa yang mulai serialisasi di majalah Monthly Shōnen Gangan milik Square Enix sejak Desember 2021. Nama besarnya langsung membuat manga ini menarik perhatian sejak chapter pertama — dan hingga Maret 2026, manga ini sudah terjual lebih dari 6 juta kopi di seluruh dunia.

Adaptasi anime-nya digarap oleh Studio Bones Film — ya, studio yang sama yang dulu menggarap Fullmetal Alchemist Brotherhood — dan resmi tayang perdana pada 4 April 2026. Anime ini direncanakan berjalan selama dua cour berturut-turut, artinya sekitar 24 episode, cukup untuk menceritakan arc awal dengan leluasa tanpa terburu-buru.

Cerita: Dua Kembar, Dua Dunia, Satu Takdir

Di balik judulnya yang terdengar misterius, Yomi no Tsugai menyimpan premis yang menarik dan segar.

Ceritanya berpusat pada dua kembar bernama Yuru dan Asa — "anak-anak yang membelah siang dan malam." Sebuah nubuat menyebutkan bahwa pasangan kembar ini ditakdirkan untuk menguasai semua makhluk supernatural bernama Tsugai — entitas yang hidup berpasangan dan bisa dikendalikan oleh manusia tertentu untuk bertempur.

Masalahnya, keduanya dipisahkan sejak kecil dan tumbuh di dunia yang sangat berbeda.

Yuru tinggal di desa Higashi — sebuah desa terpencil di atas gunung yang secara harfiah terisolasi dari dunia modern selama berabad-abad. Dia tumbuh sebagai pemburu yang tangguh, hidup sederhana, dan bahkan tidak tahu apa itu pesawat terbang. Ketika dia melihat jejak kondensasi di langit, dia menganggapnya sebagai naga yang sedang terbang. Momen ini terdengar lucu, tapi sekaligus menjadi salah satu twist paling cerdas di episode pertama yang langsung mengubah persepsi penonton tentang dunia anime ini.

Asa, sang adik kembar, tumbuh dalam kondisi yang jauh berbeda — dikurung di dalam penjara oleh desa, dengan sangat sedikit orang yang diizinkan menemuinya. Alasannya? Belum sepenuhnya terungkap, dan itulah salah satu misteri yang membuat cerita ini semakin menarik untuk diikuti.

Ketika barrier pelindung desa tiba-tiba runtuh dan pihak luar menyerang, kehidupan Yuru berubah total dalam sekejap. Perjalanannya untuk menemukan Asa sekaligus memahami takdir mereka pun dimulai.

Kenapa Ini Berbeda dari Anime Lainnya?

Salah satu hal pertama yang langsung terasa saat menonton Yomi no Tsugai adalah rasa "familiar yang menyenangkan" — sesuatu yang mengingatkanmu pada anime-anime shonen klasik era 2000-an, tapi dengan presentasi yang segar dan modern.

Ini bukan kebetulan. Arakawa memang dengan sengaja membangun dunia yang terasa seperti kelanjutan spiritual dari gaya berceritanya di FMA — ada elemen folklore Jepang kuno, ada dunia modern, ada kekuatan supernatural, dan di atasnya semua, ada hubungan saudara yang jadi inti emosional cerita.

Bedanya dengan FMA, kali ini Yuru dan Asa tidak tumbuh bersama. Mereka adalah dua orang asing yang kebetulan terlahir kembar. Proses mereka saling menemukan dan membangun kepercayaan satu sama lain adalah dinamika yang jarang ada di anime shonen lain, dan ini yang membuat Yomi no Tsugai punya kedalaman yang tidak biasa untuk genre-nya.

Dari sisi sistem kekuatannya pun, konsep Tsugai terasa segar. Berbeda dari sistem Stand di JoJo atau Jutsu di Naruto, Tsugai adalah makhluk yang selalu hadir berpasangan — dua entitas berbeda yang saling melengkapi dan hanya bisa dimaksimalkan kalau penggunanya paham cara mengombinasikan keduanya. Potensi kreativitas dalam setiap pertarungannya sangat besar.

Animasi: Studio Bones Tidak Pernah Mengecewakan

Ini adalah kolaborasi pertama antara Arakawa dan Studio Bones sejak Fullmetal Alchemist Brotherhood selesai di tahun 2010. Enam belas tahun berselang, dan hasilnya? Studio Bones jelas tidak lupa cara mengadaptasi karya Arakawa dengan benar.

Visual Yomi no Tsugai punya identitas yang kuat. Art style-nya sangat mengingatkan pada FMA — ada yang bilang Yuru secara fisik mirip sekali dengan Riza Hawkeye — tapi bukan berarti ini sekadar daur ulang. Desain karakter-karakternya terasa orisinal dan konsisten dengan dunia yang ingin dibangun.

Yang paling menonjol adalah cara studio merender pertarungan-pertarungan yang melibatkan Tsugai. Makhluk-makhluk ini memiliki desain yang unik dan aneh — dalam artian yang baik — dan melihat mereka bergerak di layar memberikan perasaan bahwa ini memang makhluk dari dimensi lain, bukan sekadar monster biasa.

Adegan-adegan transisi antara desa Higashi yang terasa seperti Jepang feudal dengan dunia modern di bawahnya juga dieksekusi dengan sangat baik, memperkuat kontras yang jadi salah satu daya tarik utama cerita ini.

Musik: Tim Terbaik untuk Karya Terbaik

Urusan musik, Yomi no Tsugai tidak main-main. Kenichiro Suehiro — komposer yang juga bertanggung jawab atas soundtrack Re:Zero dan Golden Kamuy — menggarap seluruh musik latar anime ini. Hasilnya adalah atmosfer audio yang menggabungkan kesakralan folklore Jepang dengan ketegangan dark fantasy modern secara mulus.

Opening anime ini dibawakan oleh Vaundy dengan lagu berjudul "Tobu Toki" (飛ぶ時, artinya "Waktu untuk Terbang") — dan ini langsung menjadi salah satu opening terbaik di Spring 2026. Energinya terasa pas, tidak terlalu hype tapi tidak juga terlalu slow, mencerminkan tone cerita yang serius tapi tetap punya semangat petualangan.

Sementara ending-nya dibawakan oleh Yama dengan lagu "Tobō yo" (飛ぼうよ, "Ayo Terbang") yang jauh lebih melankolis — cocok untuk menutup setiap episode yang sering meninggalkan pertanyaan di benak penonton.

Karakter: Lebih dari Sekadar Protagonis Kuat

Yuru adalah protagonis yang menarik justru karena dia bukan tipikal "jagoan yang tahu segalanya." Dia kuat secara fisik, tapi sangat naif soal dunia luar. Melihat dia perlahan menyadari betapa besar dunia yang selama ini tersembunyi darinya adalah salah satu perjalanan karakter yang paling menyenangkan di anime ini.

Karakter pendukung yang langsung mencuri perhatian adalah Gabby (Gabu) — makhluk Tsugai milik Asa yang perangainya sangat kontras dengan Asa yang tenang. Kalau FMA punya Alphonse yang sopan dan Edward yang meledak-ledak, Yomi no Tsugai punya dinamika serupa tapi dengan twist yang lebih gelap. Gabby bukan karakter yang sepenuhnya baik, dan ini membuat dirinya jauh lebih menarik dari sidekick anime kebanyakan.

Dera, si pedagang keliling yang jadi satu-satunya penghubung antara desa Higashi dan dunia luar, juga punya lapisan karakter yang masih menyimpan banyak misteri yang belum terkuak.

Perbandingan dengan Fullmetal Alchemist — Harus Kah?

Pertanyaan yang pasti ada di benak semua orang: "Apakah Yomi no Tsugai lebih bagus dari FMA?"

Jujur, pertanyaan itu terlalu dini untuk dijawab sekarang, dan mungkin tidak terlalu adil juga. FMA Brotherhood adalah mahakarya yang sudah selesai dan sudah terbukti. Yomi no Tsugai masih berjalan, masih membangun fondasinya.

Tapi yang bisa dikatakan sekarang: Yomi no Tsugai punya semua DNA yang membuat FMA hebat — hubungan saudara yang emosional, sistem kekuatan yang logis, dunia yang kaya untuk dijelajahi, dan cerita yang tidak takut mengambil jalan yang gelap kalau itu yang terbaik untuk narasinya.

Apakah ia bisa mencapai level FMA Brotherhood? Kemungkinannya ada. Tapi bahkan tanpa itu, Yomi no Tsugai sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri sebagai anime yang luar biasa.

Kekurangan yang Perlu Dicatat

Seperti anime lainnya, Yomi no Tsugai bukan tanpa catatan. Di episode-episode awal, worldbuilding-nya memang sedikit lambat bagi penonton yang terbiasa dengan pacing cepat anime modern. Ceritanya sengaja dibangun perlahan, membiarkan misteri mengendap sebelum benar-benar meledak.

Selain itu, beberapa keputusan moral karakter — terutama yang melibatkan Gabby — mungkin akan terasa janggal atau bahkan mengganggu sebagian penonton. Ini bukan kelemahan, tapi lebih ke pilihan naratif yang belum sepenuhnya dijelaskan. Sabar saja, karena Arakawa adalah penulis yang tahu persis apa yang dia lakukan.

Verdict — Layak Ditonton?

  • 📖 Cerita: 8.7 / 10
  • 🎨 Animasi: 9.2 / 10
  • 🎵 Musik: 9.0 / 10
  • 👥 Karakter: 8.8 / 10
  • Overall: 9.0 / 10

Yomi no Tsugai adalah tontonan wajib Spring 2026 — terutama buat kamu yang merindukan anime shonen klasik yang punya kedalaman cerita, karakter yang berkesan, dan dunia yang terasa nyata untuk dijelajahi. Ini bukan hype semata. Ini memang bagus.

Kalau kamu belum pernah nonton FMA sebelumnya, tidak masalah — Yomi no Tsugai adalah cerita yang berdiri sendiri dan sangat ramah untuk penonton baru. Tapi kalau kamu adalah fans FMA, menonton anime ini akan terasa seperti bertemu kembali dengan teman lama yang sudah lama pergi.

Dan itu adalah perasaan yang sangat menyenangkan.

🎌 Langsung tonton Yomi no Tsugai dengan subtitle Indonesia gratis di Nimeku:

Bagikan Artikel

Artikel Terkait